Renungan Pagi
Teologi Kemakmuran di Pandang dari Surat 1 Timotius 6:17-18 dan Implementasinya bagi jemaat
Kemakmuran menurut konsep Paulus adalah untuk
dinikmati, maksudnya Kemakmuran yang digunakan untuk berbuat baik. Dan berbuat
baik dimaksudkan supaya menjadi kaya di dalam kebajikan,selanjutnya kaya di
dalam kebajikan merupakan perbuatan suka memberi dan suka membagi. Demikianlah
keharusan pengunaan kekayaan yang diajarkan Paulus dalam surat 1 Timotius 6:17-18.
Sebaliknya Paulus juga menjelaskan konsep kesalahan dalam penggunaan kekayaan
atau kemakmuran yang meliputi tinggi hati dan berharap pada kekayaan itu
sendiri. Kemudian dalam ayat 19 Paulus memberikan konsep keabadian penggunaan
kemakmuran, yang antara penggunaan kekayaan untuk tujuan mengumpulkan harta di
Sorgawi dan ekspresi warga sorgawi.
Demikianlah Paulus memperingatkan jemaat di Efesus yang salah dalam menggunakan kekayaan dan memperingatkan bagaimana seharusnya menggunakan kekayaan atau kemakmurannya. Peringatan itu bukan saja berhenti pada masa itu,tetapi peringatan itu berlangsung sampai pada masa sekarang. Kemakmuran adalah kemajuan yang sangat baik yang diambil dari bahasa Yunani eudoo, yang terdiri dari dua akar kata eu, baik dan hodos artinya jalan atau arah. Menurut Kamus besar bahasa Indonesia Kemakmuran adalah [1]serba kecukupan dan tidak kekurangan. Jadi Teologi Kemakmuran dapat dipahami sebagai pengetahuan tentang karya Allah yang mengandung janji berkat secara materi,kesembuhan dan mujizat yang men-sejahterakan. Oleh sebab itu pada prakteknya para penganut keyakinan teologi kemakmuran mengikut Yesus akan mengalami kekayaan secara materi dan kesembuhan mujizat dan kesejahteraan hidup. Pandangan Teologi Kemakmuran menurut para tokoh yang memahami Firman Allah yang ditafsirkan dengan metode eksegese sebagai upaya menggali kebenaran dari dalam konteks ayat maka akan menghasilkan kebenaran yang dapat dipraktekan dengan tepat. Namun mengenai teologi Kemakmuran, katanya tidak salah namun akan salah apabila mengartikan kata kemakmuran ini dengan melihat janji Allah yang terlalu besar dengan mengarah kepada materi saja. Oleh sebab itu mempelajari tentang teologi kemakmuran menurut Alkitab ini adalah hal yang sangat penting agar jangan salah mengerti tentang janji Tuhan yang sebenarnya.
David L.Smith
Menurut David L.Smith dalam bukunya yang berjudul A.Handbook Of Contemporary Theology terdapat dua karakteristik Teologi Sukses yang mendasar yaitu teologi harga diri dan teologi kemakmuran. [1]Teologi harga diri dikembangkan oleh Robert Schuller menekankan kepada pengalaman iman dan hidupnya kepada harga diri yang positif dan berpikir positif thinking adalah suatu kekuatan yang mendorong kesuksesan. Teologi kemakmuran yaitu teologi yang menempatkan kehidupan orang beriman yang sangat diberkati kesehatan dan keuangan,sehingga kelimpahan materi adalah klaim dari teologi kemakmuran.
Jim Bakker, Jim Bakker adalah ketua dan pendiri Heritage Village Church dan Missionary Fellowship ( induk organisasi Heritage USA,PTL dan Inspirational Network). Dia adalah salah satu sosok pemberita Injil di Los Angeles dan pembicara seminar. Aktif juga terlibat dalam pelayanan pemulihan bagi para gembala,pemimpin rohani, dan bagi mereka yang pernah mengalami kemunduran dalam perjalanan mereka bersama dengan Allah dan seorang penulis buku. Menurut Jim Bakker, banyak orang Kristen tidak tergelincir karena kekayaan tetapi karena keinginan untuk memiliki kekayaan atau kemakmuran. Uang adalah akar dari banyaknya kekacauan dalam dunia saat ini, nasehat Paulus di dalam (1 Timotius 6:9-10) menyatakan bahwa mereka yang cinta uang berarti mengundang masalah hidup.
Paul Yonggi Cho Paul Yonggi Cho di lahirkan di bagian Jazira Korea pada masa penduduk Jepang. Pada tahun 1958 melayani gereja tenda dengan 6 orang dewasa dan beberapa anak sekolah minggu. [1]Cho dalam bukunya yang “berjudul kehidupan yang berhasil” menekankan bahwa Allah menghendaki kehidupan orang percaya berhasil di dalam segala usaha hidupnya. Seseorang yang mau berhasil harus memiliki rasa terdorong untuk mencapai keberhasilan itu. Berdasarkan pandangan Cho apabila keinginan dikehendaki seseorang itu adalah kekayaan maka seseorang harus memiliki rasa terdorong untuk mencapai kekayaan itu sampai berhasil dan kekayaan itu adalah berkat Tuhan yang diberikan-Nya. Jadi tindakan rasa terdorong itu adalah ekspresi atau ungkapan dari iman yang dikerjakan dalam mencapai kekayaan atau kemakmuran.
Konsep Paulus
mengenai kemakmuran di tuliskannya sebagai suatu peringatan yang penting bagi
Paulus untuk dipahami oleh semua orang percaya masa kini. Karena bagi Paulus
kemakmuran adalah baik bagi orang menggunakan kemakmurannya dengan benar dan
berdampak buruk bagi beberapa orang yang salah dalam menggunakan kekayaannya.
Pola pemahaman Paulus memberikan konsep bahwa di dalam kemakmuran Allah,
diberikan untuk kepentingan manusia sendiri sebagai suatu kenikmatan untuk
dinikmati bersama dalam ikatan persaudaraan seiman di dalam Kristus. Menikmati
kekayaan dengan berbuat baik, menjadi kaya di dalam kebajikan orang-orang kaya
suka memberi dan suka membagi menjadikan kekayaan sebagai dasar yang tepat
untuk orang percaya bermegah di dalam masa kekekalan.
1.
Penggunaan kemakmuran yang salah (1 Tim 6:17)
Rasul Paulus memberikan larangan terhadap orang-orang
percaya di Efesus agar tidak terbuai akan keberadaan mereka yang kaya. Nasehat
Rasul Paulus ini disebabkan Efesus adalah sebuah kota yang kaya dan ramai
perniagaannya dank arena itu ia menambahkan pesannya yang terdapat dalam ayat
tujuh sampai Sembilan belas oleh karena kekuatirannya kepada jemaat di Efesus.[1]
Penyebab yang lain, menyebabkan Paulus memperingatkan
jemaat di Efesus adalah karena perilaku guru-guru sesat yang cinta kepada uang
dan tudak berpikiran sehat tentang kebenaran. Dalam surat ini rasul Paulus juga
menginginkan agar kehidupan mereka tidak berdasarkan kemewahan materi dan tidak
salah menaruh pengharapannya.
a. Tinggi hati terhadap kekayaan
Rasul
Paulus menggunakan kata tinggi hati dalam suratnya sebagai suatu peringatan.
Rasul Paulus mengatakan di dalam frase “tinggi hati” (1 Tim.6:17-19) dalam
bahasa Yunani memakai kaya hypselophroneo
yang berarti berpikiran tinggi, angkuh dalam bahasa Inggris menggunakan kata
highminded, proun, pengertian angkuh yang sama juga dengan pengertian bahasa
yunani juga di dukung oleh Charles dkk, menurutnya tinggi hati juga dapat berarti
angkuh, dalam bahasa Yunani menggunakan kata kerja Tunggal yang memiliki dua
unsur hypsela phronei. Sebagaimana
dijumpai di dalam Roma 11:20 ; 12:16. Jadi tinggi hati dapat juga berarti
angkuh dan sombong.
Kemakmuran
dalam pandangan Paulus dapat menyebabkan seseorang jatuh di dalam kesombongan
dan keangkuhan hidup. Peringatan Rasul Paulus ini disampaikan oleh kepada
jemaat di Efesus supaya mereka tidak terlalu percaya pada diri sendiri.
Mengenai tinggi hati ditemukan beberapa ayat di surat Rasul Paulus, ia
menasehati dengan ajakan kepada seseorang untuk melihat kepada teladan
hidupnya, Rasul Paulus berkata :
Saudara-saudara kata-kataku
ini kukenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos karena kamu, supaya dari
teladan kami kamu belajar apa artinya ungkapan : jangan melampaui yang ada
tertulis ; supaya jangan ada diantara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan
menutamakan yang satu dari pada yang lain. (1 Kor.5:6)
Perikop ini menunjukan nada marah Rasul
Paulus atas kesombongan orang-orang percaya Korintus ayat enam sampai tiga
belas dan mengakhiri bagian ini dengan nada lebih lembut. Rasul Paulus
menegurjemaat di Korintus yang sombong karena lebih tinggi dari guru-guru yang
lain, sehingga bagi Rasul Paulus kesombongan itu tidak ada gunanya. Wiersbe
berpendapat bahwa “jika kekayaan menyebabkan seseorang tinggi hati,maka ia
tidak dapat memahami baik dirinya maupun kekayaannya.
Kesombongan
dalam hidup manusia muncul dari dalam hati seseorang. Yesus berkata :
Sebab dari dalam, dari hati
orang, timbul segala pikiran yang jahat,
percabulan,pembunuhan,keserakahan,kejahatan,kelicikan,hawa nafsu,iri hati,
hujat, kesombongan, kebebalan,semua hal-hal jahat ini timbul dalam dari dalam
dan menajiskan orang (Mrk.7:21-22)
Yesus mengajarkan
apa yang keluar dari dalam itu menajiskan, ketika berhadapan dengan ahli
Taurat. Jadi kesombongan yang timbul dari hati itu adalah kenajisan bagi Allah,
serta lewat kesombongan itulah yang menyebabkan orang jatuh ke dalam berbagai
dosa.
b. Berharap pada kekayaan (1 Tim.6:17a)
Rasul Paulus berkata dalam
frase “ jangan berharap pasa sesuatu yang tidak tentu seperti kekayaan”
pemakaian kalimat ini sebagai suatu konsep Paulus di dalam pemahamannya supaya
jemaat di Efesus tidak salah menaruh pengharapannya kepada Tuhan. Bagi Paulus ,
berharap pada kekayaan akan membuat seseorang tidak mengabdi kepada Tuhan.
Sifat yang salah ini menjadi perhatian Paulus yang akan membawa jemaat di Efesus kepada kebiasaan
yang buruk. Yesus berkata :
Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan
karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain.
Atau iakan setia kepada yang seorang dan mengasihi yang lain. Atau ia kan setia
kepada yang seorang dan mengabdi kepada Allah dan Mamon. (Luk.6:10)
Menaruh pengharapan kepada kekayaan akan membuat perhatian
seseorang
terpisah dari Allah.
Mengabdikan diri kepda mamon akan membuat manusia menemukan kesia-siaan, Hill
mengatakan kekayaan apabila dikombinasikan dengan emosi seperti amarah, iri
hati dan pengkhianatan dapat berubah menjadi sesuatu yang memecah belah.
Dampak dari akibat berharap kepada kemakmuran
dapat juga membuat perpecahan dalam segala segi, seperti organisasi, rumah
tangga, lingkungan dan lembaga gereja. Wijanarko, mengemukakan :
Masalah ini dapat terjadi bahwa uang dapat menjadi
sumber konflik dan ini terjadi digereja dan yayasan. Ketika tidak uang cinta
Tuhan tetapi sudah banyak uang dikantong kolekte tidak ada lagi keterbukaan.
Ketika masing-masing punya visi yang satu ingin membuat reatret, gedung besar
dan yang lain ingin penginjilan tapi yang terjadi tidak ada kesepakatan maka
terjadilah perpecahan, masalah ini terjadi karena melihat saldo. [2]
Berharap kepada Kemakmuran dengan
melihat uang sebagai sarana kebutuhan materi jika tidak menjaga kemurnian hati
maka jelas akan membawa perpecahan dan berharap kepada uang dan kekayaan bukan
menjadi jalan keluar dalam sebuah tujuan. Oleh sebab itu berharap pada kekayaan
juga merupakan salah satu sifat yang salah.
Di dalam pasal enam di ayat-ayat yang
lain dalam konteks dekat, terdapat juga kesalahan orang dalam penggunaan
kekayaan yang adalah sebagai berikut :
1)
Mengejar
kekayaan ( 1 Tim 6:9)
Mengejar
kekayaan merupakan sifat yang salah terhadap kekayaan, Rasul
Paulus berkata :
Tetapi
mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam jerat dan kedalam
Pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai nafsu yang hampa dan
yang
mencelakakan yang menenggelamkan manusia ke dalam reruntuhan
dan
kebinasaan (2 Tim.6:9)
Rasul Paulus menasehati Timotius
sebagai pemimpin jemaat, untuk tidak tergiur dengan orang-orang yang ingin
cepat kaya. Menurut Wolmaran’s “ jika mengejar kekayaan dapat dikatakan sebagai
awal yang mencelakakan, jika kemakmuran itu sudah menjadi tujuan hidup beberapa
orang. Allah padahal dengan sengaja tetap menyimpan sebagian uang tersebut (Kis
5:1-11) menurut Charles dkk.
Program membagi
kekayaan di gereja mula-mula merupakan tindakan sukarela dan hak Ananias yang
membagikannnya dengan kerelaan namun karena keserakahan maka Ananias
meninggalkan kebenaran. Mengejar kekayaan membuat kehidupan sesorang menyimpang
dari iman, perkataan Petrus kepada
Ananias dalam frasa “ Ananias mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga
engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian hasil penjualan tanah itu ?”
tetapi Ananias tetap berkeras hati untuk berbohong maka rebahlah Ananias ketika
Petrus menyampaikan perkataannya yang berkata dalam frase” engkau bukan
mendustai manusia tetapi engkau mendustai Allah” bahaya seseorang mengejar
kekayaan akan terbawa kepada kehancuran hidup.
Yudas Iskariot seorang dari kedua belas
murid Yesus, mati menggantungkan diri sendiri karena perasaan hati yang tidak
tenang mengkhianati Tuhan Yesus. Yudas menjual Yesus dengan harga tiga puluh uang
perak, karena tergoda dengan Iblis (Mrk.22:3) sehingga Yudas bersama Imam-imam
kepala menyiapkan waktu yang tepat utuk menangkap Yesus. Terjerumusnya Yudas
bukan hanya pengaruh Iblis tetapi karena kebiasaan buruknya sebagai bendahara
dan juga sebagai pencuri.
b) Cinta uang
Cinta
uang akan membuat orang menyimpang dari iman dengan membawa dampak buruk bagi
kehidupan manusia, menurut Wijanarko punya uang atau tidak tidaklah dosa,
tetapi jika sudah bernafsu kaya sehingga sudah mengahalkan segala cara untuk
cepat kaya itu sudah sesat. [3]
Rasul Paulus berkata :
“ karena akar segala kejahatan
adalah cinta uang, sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang
dari iamn dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. (1 Tim.6:10)
Rasul Paulus menyampaikan
fakta dari apa yang Paulus lihat supaya menjadi naeshat penting bagi Timotius
agar menjaga dirinya bersih dari hal yang dapat menjeratnya.
Orang yang mencintai uang tidak akan puas dengan uang. Sifat ini terjadi dalam hidup Salomo. Menurut Soedarmo “ sebab cinta uang makin dituruti makin tambah besar” kemakmuran yang sia-sia bagi pengkhotbah sendiri apabila mencari kekayaan dengan nafsu serta kehausannya kepada harta dalam frase berkata “ tetapi kekenyangan orang yang kaya sekali-kali tidak membiarkan orang tidur” (Pengk.5:11) tidak dapat tidur bukan karena terlalu banyak kerja tetapi karena terlalu banyak makan sehingga dalam hidupnya mengalami kemalang
2) Penggunaan Kemakmuran dengan Benar (1 Timotius 6:18)
Memfungsikan
kemakmuran hidup dengan benar merupakan keseluruhan konsep Paulus. Peringatan
ini disebabkan karena kekayaan yang diberikan oleh Allah untuk dinikmati, bukan
untuk diri sendiri saja. Dalam penikmatan kekayaan itu seharunya ada perbuatan
baik yang bisa dibagikan sebagai orang percaya di dalam kasih Kristus. Kaya di
dalam kebajikan, suka memberi dan suka membagi adalah konsep Rasul Paulus yang
sangat mulia untuk dilakukan bagi jemaat masa kini.
a. Kemakmuran Hidup
untuk dinikmati
Peringatan Rasul Paulus
terhadap kekayaannya dituliskan kepada Jemaat di Efesus, Paulus berkata :
Peringatkanlah kepada orang-orag
kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada
sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam
kekayaannya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. (1 Tim 6:17)
Kata peringtkanlah di ambil dari kata (Paragelle) yang dapat diartikan
memperingatkan, mengumumkan suatu pesan. Dan jangan berharap pada sesuatu yang
tidak tentu seperti kekayaan” sebab kekayaan memiliki sifat yang hanya
sementara. Dalam bahasa asli menggunakan kata (elpizo) yang berarti tidak tentu. Kata Elpizo dapat juga berarti tidak pasti. Penegasan pesan Paulus
mengajarkan jemaat agar menaruh pengharapannya kepada Allah di dalam
kekayaanNya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Kata
dinikmati memakai kata (apalausin)
yang berarti kenikmatan.
Perkataan Rasul Paulus merupakan peringatan
penting bagi jemaat, karena melihat banyak kesalahan dalam pelaksanaan ibadah
yang dilakukan oleh beberapa orang yang tidak berpikiran sehat. Ungkapan yang
senandung dalam frase “ keuntungan dari Firman Allah” tangkapan Rasul Paulus
dari fakta yang ditemukannya akhirnya memunculkan suatu pemahaman bahwa
orang-orang kaya harus menaruh pengharapannya kepada Allah di dalam kekayaan
Allah yang tiada terbatas.
Dalam bahasa Yunani kekayaan
menggunakan kata Plousios artinya
kekayaan yang berlimpah-limpah. Paulus membukakan pengharapan yang pasti supaya
lewat kekayaan Allah jemaat di Efesus menikmati kekayaanNya.
Allah memberikan kemakmurannya untuk
dinikmati, berbagai sumber kekayaan Allah disediakan-Nya.
Hill berkata :
Kekayaan sebagai pemberian Allah kepada umatNya.
Cerita mengenai keluarga Abraham,anak cucunya, mereka menghargai kebaikan Allah
atas kemakmuran pribadi maupun bersama. (Kej.13:26) keturunan selanjutnya
walaupun menderita sebagai budak di Mesir, mereka dijanjian sebagian kekayaan
Mesir dan tanah sendiri yang berlimpah susu dan madunya.
Kekayaan Allah yang diberikan kepada
keturunan Abraham dijadikan sebagai modal untuk dinikmati. Oleh seba itu
semakin mereka bekerja keras mereka akan merasakan kemakuran hidup. Banyak
dijumpai bahwa orang kaya tidak menikmati kekayaannya. Fakta empiris alam kehidupan orang kaya disaksikan oleh
Columbus Ia berkata :
Sering mereka diserang dengan perasaan takut seperti :
takut bangkrut sehingga mengalami kecemasan yang berat, sehingga tertekan
jiwanya, orang yang terkenal namanya dan disanjung-sanjung tapi pada akhirnya
bunuh diri, adalah suatu kemalangan jika mereka sendiri tidak menikmati
kekayaannya. [4]
Menurut Soedarmo berpendapat :
“penulis lebih suka menyodorkan contoh-contoh dari hidup, dari pada
abstraksi-abstraksi”. Menurut Soedarmo kemalangan yang dirasakan oleh orang
kaya yang tidak dikaruniakan menikmati kekayaannya merupakan suatu kehidupan
yang diatur oleh Allah atas kedaulatanNya. [5]Pengkhotbah
menceritakan kehidupan orang yang kaya atas kedaulatanNya. Pengkhotbah
menceritakan kehidupan orang yang kaya ini diakibatkan karena ke tidak puasan
dalam mencari harta, bekerja keras dengan segala nafsu sehingga tidak
memperhatikan hidupnya secara baik yang meliputi kewajibannya, hubungannya
dengan Tuhan dan pemeliharaan atas dirinya sendiri, sehingga bukan orang itu
yang menikmati kekayaaan akan tetapi orang lain yang menikmatinya.
b. Kemakmuran untuk
Berbuat Baik (1 Tim.6:18)
Di dalam
menikmati kekayaan yang Allah berikan, kekayaan itu juga harus digunakan untuk
berbuat baik. Rasul Paulus mengajarkan jemaat lewat suratnya. Agar memfungsikan
kekayaannya untuk berbuat baik. (1 Tim.6:18) kata peringatkanlah (paragello) ditulis 2 kali dalam ayat
17-18 sebagai tanda keseriusan di dalam menyampaikan pesannya kepada jemaat di
Efesus. Kata “mereka” pada frasa “agar mereka itu “, menunjuk kepada orang kaya
yang berarti kaum kaya yang mempunyai kelimpahan. Kata berbuat dalam kalimat
“agar mereka itu berbuat baik” dari kata kerja dalam bahasa Yunani memakai (agathoergein) yang artinya bekerja
dengan baik.
Dalam surat
1 Timotius 2:10 perbuatan baik juga dianggap sebagai suatu kecantikan (beautiful) ketika Paulus menyampaikan
bagaimana seharusnya perempuan berdandan, sebagaimana ungkapan “tetapi
hendaklah ia berdandan dengan perbuatan baik, seperti layaknya perempuan
beribadah”, memberi makna bahwa perbuatan baik dapat dipandang sebagai suatu
kecantikan.
Orang-orang
kudus di Efesus “ karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus
untuk emlakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau,
supaya kita hidup di dalamnya. (Ef.2:10). Pernyataan Rasul Paulus dalam ayat
ini mengajarkan orang-orang kudus di Efesus untuk melakukan pekerjaan baik
sebagai suatu pekerjaan.
Pekerjaan
dalam bahasa Yunani (Poima) yang
berarti kecakapan dalam bekerja (workmanship).
Jadi dapat dipahami bahwa pekerjaan baik harus dikerjakan dengan kecakapan.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia kata cakap berarti mahir melakukan
sesuatu, mempunyai kemampuan kepandaian. Melihat pengajaran pekerjaan baik yang
Rasul Paulus sampaikan maka dihubungkan dengan peringatan Paulus kepada orang-orang
kaya,akan ditemukan sebuah konsep pemikiran Paulus secara tegas bahwa kekayaan
yang sesungguhnya dapat dipakai sebagai sarana untuk melakukan pekerjaan baik.
Hill mengatakan :
Beberapa peristiwa dalam perjanjian baru memandang kekayaan dalam suatu
segi positif, seperti : perempuan-perempuan kaya yang menduku pelayanan Yesus
dari kekayaan mereka (Luk.8:2-3) dan seorang kaya memberikan sebuah kuburan
yang mahal untuk pemakaman Yesus.[6]
Dari pendapat Hill terdapat
segi positif dalam memandang kekayaan. Konsep berpikir Paulus dinyatakan bahwa
betapa mulianya seorang di mata Allah jika kekayaan yang dimiliki, diberikannya
kepada orang lain yang membutuhkannya, hal itupun merupakan bagian cara untuk
memuliakan Allah.
Prinsip pelayanan Rasul
Paulus dalam menerapkan konsepnya dalam berbuat baik diajarkan kepada jemaat di
Tesalonika. Rasul Paulus berkata “ dan kamu saudara-saudara, janganlah
jemu-jemu berbuat aa yang baik” (2 Tes.3:13) menurut Charles dkk. Maksudnya
jangan kendor atau menjadi malas”. Rasul Paulus memotofasi jemaat di Tesalonika
sekalipun berada ditengah orang tidak tertib hidupnya dan tidak
bekerja,melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna namun Paulus tetap
memotifasi iman jemaat untuk tetap berbuat baik. Dalam frase berkata “janganlah
jemu-jemu berbuat baik” (2 Tes.3:14)
- Menjadikan Kemakmuran untuk kebajikan (1 Tim.6:18)
Orang kaya yang berbuat baik adalah orang yang menjadi kaya dalam
Kebajikan. Arti kata kebajikan menurut kamus besar bahasa Indonesia
memiliki pengertian mendatangkan kebajikan. [7]Sedangkan
dalam bahasa Yunani memakai kata (Kalois)
yang memiliki pengertian seseorang yang memiliki kualitas moral. Dalam bahasa
Inggris disebutkan excellent (1 Tim. 10:25) jadi orang yang berbuat kebajikan
adalah orang yang mendatangkan kebaikan lewat hidupnya. Dalam perkataaan Rasul
Paulus ayat 18 berkata menjadi kaya dalam kebajikan yang berarti menjadi kaya
dalam pekerjaan baik. Dalam King James Version “that they be rich good works”
dan orang yang menjadi kaya dalam kebajikan adalah orang yang suka memberi dan
membagi.
- . Suka memberi
Orang yang menjadi kaya dalam kebajikan adalah suka memberi. Pengajaran Rasul Paulus membukakan sebuah konsep yang benar terhadap penggunaan harta, kata memberi dalam ungkapan terdapat dalam kalimat dari ayat delapan belas dalam frasa” suka memberi” kata memberi dalam bahasa Yunani memakai kata (eumetadotous) artinya memberi. Kata memberi dalam bahasa Inggris give dalam bahasa Inggris mengandung makna memberikan sesuatu kepada orang yang bukan lagi haknya, melainkan haknya sudah berpindah kepada si penerima. Kata suka menurut kamu besar bahasa Indonesia kontenporer berarti senang hatinya, maka dapat juga diartikan melakukan pemberian dengan senang hati.
Di
dalam kehidupan pelayanan Rasul Paulus dijumpai beberapa pengajaran yang
memunculkan ide atau konsep mengenai memberi telah diaplikasikan pada jaman
Rasul Paulus sebagai contoh untuk menjadi kesaksian. Salah satunya adalah
persekutan jemaat di Makedonia. Dalam surat 2 Korintus 8:2-3 berkata “sukacita
mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin,namun mereka kaya dalam
kemurahan.” Istilah kaya dalam bahasa Yunani menggunakan kata (aplotetos).
Dalam kamus bahasa Yunani-Indonesia menurut Newman berarti kemurahan hati yang
besar sekali. Jadi perbuatan mereka saat itu membuktikan kemurahan hati yang
besar.
- Suka membagi (1 Tim.6:18)
Orang yang berbuat kebajikan adalah orang yang suka
membagi. Kata membagi berarti pecahan dari suatu yang utuh, penggal, pecah,
terbagi ditambah dengan awalan kata mem – maka dapat diartikan memberi bagian
dari apa yang dimilikinya kepada seseorang dalam bentuk kata kerja. [8]Rasul
Paulus mengatakan dalam frasa” suka membagi dalam istilah Yunani memakai kata (Koinonikos) yang berarti membagi secara
cuma-cuma.
Orang yang kaya dalam kebajikan,adalah orang yang kaya
yang suka membagi, Rasul Paulus berkata :
“ dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih
karunianya kepada kamu,supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala
sesuatu dan malah berlebihan dalam pelbagai kebajikan. Seperti ada tertulis ia
membagi-bagikannya, ia memberikan kepada orang miskin, kebenarannya tetap untuk
selama-lamanya.(2 Kor.9:8-9)
Saat itu
Rasul Paulus berada dalam kegiatan mengumpulkan dana bersama Titus untuk
dikirim ke Yerusalem. Spitller menjelaskan Allah sanggup melimpahkan segala
kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala
sesuatu dan malah berlebihan di dalam pelbagai kebajikan sehingga kamu akan diperkaya
dengan segala macam kemurahan hati yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh
karena kami. Pemberian kepada orang-orang kudus selain dilakukan sebagai
pelayanan kasih,pemberian juga dilakukan sebagai ucapan syukur kepada Allah
Implementasinya Bagi Jemaat
Implementasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah penerapan hal-hal yang sudah disepakati. Menurut Soedarsono dalam bukunya yang berjudul analisis kebijakan public, Implementasi adalah suatu aktivitas yang berkaitan dengan penggunaan sarana untuk memperoleh hasil dan tujuan. Jadi Implementasi adalah penerapan yang sudah melalui tahap kesepakatan untuk dilakukan. Pandangan Kemakmuran di dalam surat 1 Timotius 6:17-18 sangat berpotensi untuk di Implementasikan kepada Jemaat agar mereka memahami berkat Kekayaan sesungguhnya. Agar dapat dipahami di kalangan jemaat GUP Makassar, kegiatan yang akan di lakukan sebagai berikut :
1.
PENULIS
Surat 1 Timotius
merupakan surat yang asli ditulis oleh Rasul Paulus kepada Timotius. Paulus
berkata “ kepada Timotius anakku yang sah di dalam iman : kasih karunia, rahmat
dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus
Yesus , Tuhan kita menyertai engkau (1 Tim1:2). Hubungan dekat rasul
Paulus dengan Timotius seperti antara anak dan bapa. Surat 1 Timotius ditulis
ketika Rasulu Paulus dalam keadaan bebas dari penjara dan baru kembali dari
kegiatan memperluas pemberitaan Injil ke
wilayah Yunani dan Kolose yang sekarang ini disebut Turki. Surat ditujukan
Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus untuk menyampaikan beberapa peringatan
khususnya kepada Timotius dan Jemaat di Efesus.
2.
KONDISI JEMAAT
Kondisi Jemaat di Efesus pada saat itu ada ditengah-tengah
ajaran sesat yang merajarela dari beberapa aliran. Diantaranya terdapat ajaran
sesat yang berasal dari Efesus yaitu angkatan muda yang berpegang teguh pada
silsilah kuno yang disebut ajaran Gnostik. [1]Ajaran
Gnostik mengajarkan silsilah yang tiada putus-putusnya dari Ilah tertinggi yang
mengalir sampai berbagai bentuk sehingga merosok keilahiannya, masuk kepada
materi bumi, percikannya Ilahi itu tergabung dan terciptalah manusia. Terdapat
juga aliran sesat yang mengutamakan Hukum Taurat (Ef.1:6) dari aliran Hermeneus
adalah salah satu diantaranya yang tersiar dari jemaat yang mengajrkan tentang
kebangkitan tubuh seperti kerohanian dan pengetahuan yang lebih dalam. Kondisi
inilah yang menyerang iman jemaat membuat Timotius kesulitan dalam menampik
ajaran sesat.
3.
PENERIMA SURAT
Surat Rasul Paulus dialamatkan kepada Timotius sebagai anak yang sah di dalam iman (1 Tim.1:2) dan sebagai pemimpin jemaat di Efesus. Timotius merupakan seorang yang masih muda dan belum punya banyak pengalaman di dalam memimpin jemaat. Oleh karena itulah di dalam surat pastoral yang dikirIm Paulus, ia menasehati Timotius agar bersungguh-sungguh dalam memimpin jemaat di Efesus.
4.
KONTEKS SURAT 1
TIMOTIUS 6:17-18
Kota Efesus adalah kota yang kaya dan dapat dikatakan Gereja
Efesus memiliki jemaat yang kaya sehingga Rasul Paulus menasehati Timotius
untuk menghadapi setiap masalah yang mungkin timbul dengan mengajarkan bahwa
memiliki kekayaan mengandung tanggung jawab yang besar. Oleh sebab itu dalam
suratnya Rasul Paulus mengingatkan agar jemaat yang diberkati mengelola
kekayaannya untuk berbuat baik di dalam kebajikan sehingga mereka menikmati
berkat yang Allah berikan. Pada dasarnya Allahlah yang akan mengendalikan
kekayaan yang Dia sudah percayakan untuk di kelola.
A. Membagikan
Materi Tentang Kemakmuran di dalam Pemuridan Gereja Lokal
Pelayanan Pemuridan di gereja lokal GUP Makassar
diadakan setiap hari kamis sore yang di isi dengan acara doa syafaat. Saat
Firman Tuhan di sampaikan, maka materi tentang kemakmuran ini diajarkan
ditengah jemaat. Ayat Dasar di dalam surat 1 Timotius 6:17-18, agar jangan
menggunakan kekayaan dengan tinggi hati dan berharap hanya kepada kekayaan yang
tidak tentu. Sehingga meluruskan kembali tentang konsep Teologi Kemakmuran yang
salah.
B. Membuat
dialog mengenai Berharap Kepada Allah di Ibadah Pemuda
Kegiatan
Ibadah Pemuda di Gereja lokal GUP Makassar diadakan setiap hari
Sabtu Pukul 19:30 Wita yang dihadiri 20 orang anak pemuda yang
dilaksanakan di gereja. Betapa pentingnya anak-anak muda di ajar sejak muda
berharap sepenuhnya kepada Tuhan. Fungsi kemakmuran diberikan Tuhan bukan untuk
diri kita sendiri melainkan untuk berbuat baik. Supaya anak-anak muda tidak
cinta kepada uang dan berharap kepada harta yang dimilikinya.
C. Membuat
Materi tentang Mengelola Keuangan di Komsel Gereja Lokal
Komsel adalah metode gereja lokal untuk mengadakan
pembinaan rohani disetiap kelompok yang ada di rumah-rumah jemaat. Kegiatan ini
diadakan setiap hari jumat malam jam 19:00 wita di setiap wilayah
masing-masing. Gereja Utusan Pantekosta jemaat Makassar memiliki 7 wilaya
Komsel yang ada disekitar kota Makassar. Satu komsel dihadiri oleh 12-15 orang
untuk dimuridkan. Pola acara Komsel doa dan sharing Firman Tuhan. Materi dapat
dibagikan serentak mengenai Pengharapan kepada Allah di dalam Kekayaan yang
Allah berikan untuk dinikmati dan untuk melakukan kebajikan.
D. Memberikan Nilai-nilai
Kebenaran tentang Kekayaan yang berkenan di Ibadah Raya
Ibadah Raya sebagai wadah yang tepat untuk menerapkan nilai-nilai
kebenaran tentang kemakmuran atau kekayaan agar seluruh jemaat yang hadir
memahami nilai kebenaran tentang berharap kepada Allah dan jangan berharap
kepada harta kekayaan manusia. Karena kekayaan di dunia tidak tentu. Kegiatan
ibadah di Gereja Utusan Pantekosta Jemaat Makassar diadakan 2 (dua) kali ibadah
pertama Pukul 10:00 Wita dan Ibadah ke 2 Pukul 16:00 Wita. Materi mengenai
Kekayaan disampaikan saat Hamba Tuhan berkhotbah di dalam Ibadah Raya.
A. Membuat
Materi tentang Mengelola Keuangan di Komsel Gereja Lokal
Komsel adalah metode gereja lokal untuk mengadakan
pembinaan rohani disetiap kelompok yang ada di rumah-rumah jemaat. Kegiatan ini
diadakan setiap hari jumat malam jam 19:00 wita di setiap wilayah
masing-masing. Gereja Utusan Pantekosta jemaat Makassar memiliki 7 wilaya
Komsel yang ada disekitar kota Makassar. Satu komsel dihadiri oleh 12-15 orang
untuk dimuridkan. Pola acara Komsel doa dan sharing Firman Tuhan. Materi dapat
dibagikan serentak mengenai Pengharapan kepada Allah di dalam Kekayaan yang
Allah berikan untuk dinikmati dan untuk melakukan kebajikan.
B. Memberikan Nilai-nilai
Kebenaran tentang Kekayaan yang berkenan di Ibadah Raya
Ibadah Raya sebagai wadah yang tepat untuk menerapkan nilai-nilai kebenaran tentang kemakmuran atau kekayaan agar seluruh jemaat yang hadir memahami nilai kebenaran tentang berharap kepada Allah dan jangan berharap kepada harta kekayaan manusia. Karena kekayaan di dunia tidak tentu. Kegiatan ibadah di Gereja Utusan Pantekosta Jemaat Makassar diadakan 2 (dua) kali ibadah pertama Pukul 10:00 Wita dan Ibadah ke 2 Pukul 16:00 Wita. Materi mengenai Kekayaan disampaikan saat Hamba Tuhan berkhotbah di dalam Ibadah Raya.
Pandangan Kemakmuran menurut Surat 1 Timotius 6:17-18 memberikan pengertian yang sangat jelas, bahwa Allah di dalam kekayaanNya mau memberkati umatnya dengan kenikmatan Ilahi yang bisa juga dirasakan bagi orang lain yang membutuhkan. Kemakmuran atau Kekayaan diberikan bukan untuk diri sendiri melainkan untuk mempraktekan gaya hidup kerajaan Allah dengan menjadi kaya di dalam kebajikan. Betapa pentingnya tokoh-tokoh pergerakan gereja secara nasional menanamkan prinsip berharap kepada Allah yang benar,bukan hanya dengan meminta di dalam iman untuk diberkati secara materi saja melainkan Taat di dalam kebenaran Firman Allah yang membuat kita mampu menjalankan pola hidup kerajaan Allah. Maka akan ada banyak jalan terbuka karena cara berpikir kita sudah benar memahami berkat Kekayaan dan kemakmuran
KESIMPULAN
Pandangan Kemakmuran menurut Surat 1 Timotius 6:17-18 memberikan pengertian yang sangat jelas, bahwa Allah di dalam kekayaanNya mau memberkati umatnya dengan kenikmatan Ilahi yang bisa juga dirasakan bagi orang lain yang membutuhkan. Kemakmuran atau Kekayaan diberikan bukan untuk diri sendiri melainkan untuk mempraktekan gaya hidup kerajaan Allah dengan menjadi kaya di dalam kebajikan. Betapa pentingnya tokoh-tokoh pergerakan gereja secara nasional menanamkan prinsip berharap kepada Allah yang benar,bukan hanya dengan meminta di dalam iman untuk diberkati secara materi saja melainkan Taat di dalam kebenaran Firman Allah yang membuat kita mampu menjalankan pola hidup kerajaan Allah. Maka akan ada banyak jalan terbuka karena cara berpikir kita sudah benar memahami berkat Kekayaan dan kemakmuran. Apapun kebenaran Firman Allah yang disampaikan, harus disaring dulu kebenarannya sehingga tidak menimbulkan kekeliruan dalam berkhotbah. Mengamati tinjauan pustaka dan perkembangan pengajaran teologi-teologi baru, konsep Teologi Kemakmuran atau Teologi sukses muncul lewat pembicara-pembicara Barat yang beraliran Pentakosta. Oleh sebab itu sampai saat ini gereja-gereja beraliran Teologi Kemakmuran mulai berkembang sampai di Indonesia yang selalu beranggapan bahwa berkat kemakmuran dan kesembuhan Ilahi akan terjadi sebagai tanda Allah berkenan atas hidupnya. Kekayaan atau kemakmuran sangat baik bila diImplementasikan berdasarkan perintah Tuhan, namun ketika tidak dilakukan tanpa berdasarkan Firman,maka kita bisa sombong dan terus berharap pada kekayaan yang berifat tidak kekal.
Komentar
Posting Komentar